Bagaimana Membedakan Keinginan dan Kebutuhan?

/, Keuangan Pribadi, Tips Keuangan/Bagaimana Membedakan Keinginan dan Kebutuhan?

Bagaimana Membedakan Keinginan dan Kebutuhan?

Kebutuhan dan KeinginanKeinginan dan kebutuhan. Dua hal yang seringkali “menjebak” kita untuk membuat keputusan yang berpotensi menjebol kantong. Sebagai manusia, wajar kalau memiliki banyak keinginan, yang (seringkali) tidak diimbangi dengan kemampuan yang sepadan untuk mewujudkannya. Keinginan, kadang juga menjadi kambing hitam dari borosnya keuangan. Padahal, para financial planner/perencana keuangan sudah sangat sering mengatakan bahwa membedakan keinginan dan kebutuhan bisa menyelamatkan keuangan Anda.

Ambil contoh sebagai berikut. Sebuah tipe baru dari merk smartphone baru saja dirilis. Perilisannya juga tidak sembarangan, ada acara megah peluncurannya beserta presentasi fitur-fitur barunya yang bisa ditonton secara langsung (live streaming) dari mana saja, lalu setelah itu ada masa-masa pre-order dimana banyak sekali penawaran istimewa yang bisa didapatkan hanya dengan memesan di masa pre-order ini, dan setelah beberapa lama barulah smartphone ini bisa sampai ke tangan konsumen. Jangan lupa, dengan ramainya perilisan ini pun media berlomba-lomba melakukan review terhadap perangkat baru yang belum dijual ini dan video-video “hands-on”nya pun bertebaran di situs video. Menggiurkan bukan? Sangat! Semakin informasi tentang gadget baru ini dicari, semakin besar pula keinginan untuk memilikinya. Garisbawahi kata keinginan 🙂

Contoh kedua. Seandainya smartphone yang menjadi andalan si A untuk bekerja dan untuk berhubungan dengan klien, tiba-tiba mati total. Dengan tidak adanya smartphone, klien atau calon klien tidak bisa menghubungi si A, dan hilang kesempatan untuk mendapat penghasilan, Si A membutuhkan sebuah smartphone baru.

Bagaimana jika contoh pertama dan contoh kedua terjadi secara bersamaan? Ini mungkin saja terjadi bukan? Mari kita mencoba membedakan keinginan dan kebutuhan.

Kebutuhan: sesuatu yang harus dipenuhi, jika tidak dipenuhi maka akan ada konsekuensi yang serius. Keinginan: sesuatu yang jika tidak dipenuhi tidak menyebabkan adanya konsekuensi yang serius. Kebutuhan terbatas, namun keinginan bisa tidak terbatas. Pada umumnya, ada elemen gengsi yang ikut berperan di dalam keinginan.

Jika kedua contoh di atas terjadi bersamaan, maka membedakan kebutuhan dan keinginan bisa dilakukan sebagai berikut:

  • Buat daftar alasan mengapa Anda butuh sesuatu. Pada kasus smartphone di atas, buat daftar apa saja fitur yang penting dan juga sering digunakan. Misalnya, jika mayoritas pekerjaan dilakukan di smartphone seperti mengedit dokumen, foto, video, Anda bisa menulis di list bahwa Anda butuh smartphone dengan RAM yang mumpuni. Apabila pekerjaan Anda berhubungan dengan Instagram misalnya, maka fitur kamera yang canggih menjadi list kebutuhan. Namun jika tidak menyukai foto-foto dan pekerjaan tidak berhubungan dengan foto maka fitur kamera yang terlalu canggih tidak menjadi prioritas.
  • Ketika daftar alasan sudah ada dan ternyata semua sudah ada di kasus pertama, cobalah untuk mundur dan mencari alternatif. Apakah ada substitusi dari pilihan pertama (yang menjadi keinginan Anda), dan juga dengan harga di bawah pilihan pertama? Dalam contoh ini, smartphone yang memiliki fitur sama namun harga lebih terjangkau (dan umumnya sedikit “kurang populer”).
  • Jika alternatif tidak ada, silakan kembali ke pilihan pertama (yang menjadi keinginan) namun tanyakan 2 pertanyaan terakhir: adakah budgetnya? Dan apakah ada kebutuhan lain yang lebih prioritas? Jika ada budget namun masih ada kebutuhan lain yang menjadi prioritas, tentunya dahulukan prioritas, dan Anda bisa memilih produk alternatif sebagai gantinya.

 

Masih tidak bisa membedakan keinginan dan kebutuhan? Tenang, Anda bisa kok mencari kambing hitam 😀 Silakan tonton video2 berkatakunci “The Man Who Made Us Spend” di Youtube. Ada “konspirasi” besar dari industri mengapa kita memang akan terus-terusan mengeluarkan uang bukan demi barang yang kita butuhkan, namun kita inginkan. Pilihan ada di tangan Anda, mau ikut terseret arus atau memegang kendali keuangan Anda?

 

By | 2016-04-11T14:52:05+00:00 April 14th, 2016|Categories: Keuangan Keluarga, Keuangan Pribadi, Tips Keuangan|2 Comments

About the Author:

Annissa Sagita yang akrab dipanggil nengNisye saat ini adalah Perencana Keuangan/Associate Financial Advisor di Aidil Akbar Madjid & Associates (AAM & Associates). Meraih gelar S1 Teknik Elektro di Universitas Brawijaya, kini menemukan passionnya di bidang financial planning. Selain aktif menangani klien, mengajar kelas perencanaan keuangan dan menjadi narasumber di media, hobi menulisnya pun dituangkan melalui web ini.

2 Comments

  1. Sasa July 16, 2016 at 3:18 pm - Reply

    Informasi yang sangat bermanfaat sehingga membantu untuk menghindari pemborosan

    • nengnisye July 28, 2016 at 2:34 pm - Reply

      Terimakasih mbak Sasa, semoga berguna yaa.

Leave A Comment

This Is A Custom Widget

This Sliding Bar can be switched on or off in theme options, and can take any widget you throw at it or even fill it with your custom HTML Code. Its perfect for grabbing the attention of your viewers. Choose between 1, 2, 3 or 4 columns, set the background color, widget divider color, activate transparency, a top border or fully disable it on desktop and mobile.

This Is A Custom Widget

This Sliding Bar can be switched on or off in theme options, and can take any widget you throw at it or even fill it with your custom HTML Code. Its perfect for grabbing the attention of your viewers. Choose between 1, 2, 3 or 4 columns, set the background color, widget divider color, activate transparency, a top border or fully disable it on desktop and mobile.